Memuat…
Rencana Ruby Mining Ambil Alih 86% Puri Sentul Permai Dibatalkan
Puri Sentul Permai (KDTN) batal berganti pengendali. Pada 5 November 2026, Ruby Mining Hongkong Limited dan tiga calon penjual sepakat mengakhiri perjanjian jual beli bersyarat yang mereka tandatangani pada 22 April 2026. Perjanjian itu mengatur rencana Ruby membeli 1,075 miliar saham, atau 86% saham KDTN, dari PT Putrasakti Mandiri, PT Intan Perdana Sukses, dan PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk. Kalau terlaksana, Ruby akan menjadi pengendali baru perusahaan pengelola hotel di rest area ini. Dengan pengakhiran itu, rencana tersebut dinyatakan diakhiri dan tidak dilanjutkan.

Spindo Rencanakan Buyback Rp150 Miliar, Harga Maksimum Rp600 per Saham
Steel Pipe Industry of Indonesia (Spindo), produsen pipa baja, berencana membeli kembali sahamnya sendiri di bursa dengan dana sampai Rp150 miliar dalam periode 5 November 2026 sampai 5 Februari 2027. Alasan yang ditulis perseroan adalah harga sahamnya saat ini belum mencerminkan kinerjanya. Seluruh dana diambil dari kas internal tanpa pinjaman, dan jumlah itu setara 2,5% ekuitas perseroan yang sebesar Rp6 triliun per 30 September 2026. Perseroan tidak meminta persetujuan RUPS, dengan merujuk surat edaran OJK tertanggal 9 September 2026.

Bank KB Indonesia Lepas 85% KB Bukopin Finance ke JB Woori
Bank KB Indonesia (BBKP) telah menyelesaikan penjualan 85% saham anak usaha pembiayaannya, PT KB Bukopin Finance (KBBF), kepada JB Woori Capital senilai Rp339,97 miliar pada 4 November 2026. Alasan yang ditulis emiten adalah memusatkan diri pada bisnis perbankan inti dan mengoptimalkan alokasi permodalan. Pembelinya adalah lembaga keuangan asal Korea Selatan dan anak usaha JB Financial Group. Menurut emiten, JB Woori Capital tidak terafiliasi dengan BBKP maupun dengan KB Financial Group, grup Korea Selatan tempat pengendali BBKP bernaung. Rencana divestasi ini sudah dilaporkan sejak 1 Juli 2025, dan OJK menyetujui perubahan kepemilikan KBBF pada 28 Agustus 2026.

Indah Prakasa Arahkan Setoran Pengendali ke Anak Usaha Berkontrak Rp1,926 Triliun
Pengendali Indah Prakasa Sentosa (INPS), PT Graha Inti Guna Persada (GIGP), masih berencana menyetor hingga Rp125 miliar lewat private placement, tetapi kini emiten menyebut ke mana sebagian besar uang itu pergi. Rp91,45 miliar akan disetor ke PT Tri Satria Indah Motor (TSIM), anak usaha otomotif yang 90% sahamnya dimiliki INPS sejak 5 Oktober 2026, untuk belanja modal dan modal kerja guna menjalankan kontrak senilai Rp1,926 triliun dengan Danantara Agrinas Pangan Nusantara. Total aset INPS sendiri per 30 September 2026 sebesar Rp171,34 miliar.

Ultrajaya Revisi Proforma Frisian Flag, Goodwill Sementara Jadi Rp14,18 Triliun
Ultrajaya memperbarui rencana pengambilalihan PT Frisian Flag Indonesia (FFI) yang dimemokan pada 18 September 2026, dan perubahan utamanya ada pada cara transaksi itu dibukukan. Versi revisi memperlakukan FFI, bukan Ultrajaya, sebagai pihak yang membeli secara akuntansi, sehingga laporan proforma kini berlanjut dari angka FFI. Perlakuan seperti ini disebut akuisisi terbalik.

Garuda Gandakan Batas Saham Rights Issue, Perkirakan Harga Rp58 Hingga Rp68
Garuda Indonesia merevisi rencana rights issue ketiganya dengan menaikkan batas saham baru dari 124,35 miliar lembar, seperti dalam memo 30 September 2026, menjadi sebanyak-banyaknya 248,71 miliar lembar. Harga pelaksanaan yang semula belum ditetapkan kini diperkirakan Rp58 sampai Rp68 per saham. Pemegang saham terbesarnya, PT Danantara Asset Management (DAM) yang memegang 91,11%, tetap berencana membayar bagiannya dengan 65,77% saham GMFI senilai Rp5,66 triliun, bukan dengan uang. Bedanya, saham GMFI itu kini sudah tercatat atas nama DAM setelah dua akta pemindahan ditandatangani pada 2 November 2026, sementara penyetorannya ke Garuda belum terjadi. Semuanya masih rencana yang menunggu RUPSLB 6 November 2026 dan pernyataan efektif OJK.

Bank Ina Rencanakan 350 Juta Saham Baru untuk Perusahaan Milik Pengendalinya
Bank Ina Perdana (BINA) menuntaskan tambah modal tahap pertama senilai Rp50 miliar pada 3 November 2026, lalu sehari kemudian mengumumkan rencana tahap kedua sampai 350 juta saham baru untuk dua perusahaan milik Anthoni dan Axton Salim. Anthoni Salim adalah pengendali akhir BINA, sehingga modal tambahan kali ini direncanakan datang dari lingkaran pengendalinya sendiri. BINA menyatakan belum ada pihak di luar afiliasi yang siap menyetor dalam waktu singkat.

Falmaco Rencanakan Anak Usaha Distribusi dengan Setoran Rp4 Miliar
Falmaco Nonwoven Industri (FLMC), produsen tisu basah dan kain nonwoven, berencana mendirikan anak usaha distribusi dan menyetor Rp4 miliar dari kas internal untuk 80% sahamnya. Setoran itu sekitar 10,8% dari total aset FLMC yang Rp37,14 miliar per 30 Juni 2026, sementara pada tanggal yang sama ekuitas perseroan minus Rp2,59 miliar karena liabilitasnya Rp39,73 miliar sudah melampaui aset. Agar boleh memegang anak usaha, FLMC lebih dulu harus menambahkan kegiatan perusahaan induk ke anggaran dasarnya, dan itulah yang diajukan ke RUPSLB pada 18 November 2026.

Indo Tambangraya Rencanakan Buyback Rp2,311 Triliun dari Kas Internal
Indo Tambangraya Megah (ITMG), perusahaan tambang batubara, berencana membeli kembali sahamnya sendiri di bursa dengan dana sampai Rp2,311 triliun dari kas internal, sementara kapitalisasi pasarnya Rp27,91 triliun pada penutupan 3 November 2026. Emiten menyebut rencana ini dibuat menurut aturan OJK untuk kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, dengan tujuan mendukung stabilitas pasar.

Nusa Konstruksi Enjiniring Rencanakan Jual 400,2 Juta Saham Treasuri ke Pengendali
Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK) berencana menjual seluruh saham yang dulu dibelinya kembali dari pasar kepada pengendalinya sendiri, PT Global Dinamika Kencana (GDK), sebuah perusahaan induk investasi. Jumlahnya maksimum 400,21 juta saham, hasil buyback antara 7 Maret 2022 dan 19 September 2023 yang sampai sekarang masih dipegang perseroan sebagai saham treasuri. Penjualan direncanakan di luar bursa lewat pasar negosiasi pada 11 November sampai 31 Desember 2026, sekaligus atau dalam beberapa tahap.

Paragon Karya Tuntaskan Pembelian DPAL Rp722,2 Miliar dengan Dana Pinjaman
Paragon Karya Perkasa (PKPK) berencana membeli sisa 50,99% saham PT Deli Pratama Angkutan Laut (DPAL), pengelola 67 kapal pengangkut, seharga Rp722,2 miliar yang akan dibayar dengan pinjaman dari pihak ketiga. Ini tahap kedua dari pembelian yang disepakati dalam perjanjian 24 April 2026. Tahap pertama, pembelian saham milik Resources Global Development Limited (RGD), selesai 17 Juli 2026, dan sejak itu PKPK sudah mengendalikan DPAL dengan 49%. Bila tahap kedua jadi, kepemilikannya naik menjadi 99,99%.

Tokyu Construction Akan Pegang 25% Saham Nusa Konstruksi Enjiniring
Pemegang saham utama Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK), PT Global Dinamika Kencana (GDK), telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Tokyu Construction Co. Ltd., perusahaan konstruksi asal Jepang. Bila semua syarat terpenuhi dan pengalihan selesai, Tokyu akan memegang 25% saham DGIK, sehingga perusahaan jasa konstruksi ini akan memiliki pemegang saham dari industri yang sama. GDK memberi tahu DGIK soal perjanjian itu pada 4 November 2026.

Nawasena Teken Perjanjian Beli 66,58% Saham Idea Indonesia Akademi
PT Nawasena Nugra Investama menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat pada 2 November 2026 untuk membeli 707,32 juta saham Idea Indonesia Akademi (IDEA), setara 66,58% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan porsi sebesar itu, Nawasena akan menjadi pengendali baru IDEA, perusahaan yang menjalankan akademi pendidikan dan pelatihan perhotelan, kapal pesiar, tata boga, dan restoran.

Djasa Ubersakti Masuk PKPU Sementara Setelah Pemasok Menagih Rp1 Miliar
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 28 Oktober 2026 mengabulkan permohonan PKPU Sementara terhadap Djasa Ubersakti (PTDU) selama 45 hari. Akibatnya, pembayaran perseroan kepada kreditur yang tidak memegang jaminan khusus ditangguhkan dan diselesaikan lewat proses di pengadilan. Permohonannya diajukan CV Titan, pemasok yang menagih Rp1 miliar. Perseroan menyebut kondisi keuangan sebagai alasan tagihan itu tidak dibayar. Putusan ini belum pailit. Selama masa PKPU, perseroan menyiapkan rencana perdamaian, dan para kreditur akan membahas atau memungut suara atas rencana itu pada 8 Desember 2026.

Cipta Perdana Lancar Rencanakan Rights Issue Hingga 8 Miliar Saham Baru
Cipta Perdana Lancar (PART), produsen komponen otomotif, elektronik, sanitasi, peralatan dapur logam, dan mesin pertanian, berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 8 miliar saham baru lewat rights issue. Jumlah itu sekitar 2,81 kali saham yang beredar sekarang. Seluruh dana bersihnya direncanakan untuk modal kerja, yaitu pembelian bahan baku, pembayaran pemasok, tenaga kerja, produksi, dan distribusi. Harga pelaksanaan, rasio hak, jumlah final, dan total dana belum ditetapkan, sehingga besar uang yang akan masuk belum bisa diketahui. Rencana ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 9 Desember 2026 dan pernyataan efektif dari OJK.

Satu Visi Putra Pinjam Rp45 Miliar dari Bank Ina, Wajib Lunas Tiga Bulan
Satu Visi Putra (VISI), pedagang besar bahan iklan dan percetakan seperti banner, tinta, dan PVC board, menandatangani pinjaman modal kerja Rp45 miliar dari PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) pada 28 Oktober 2026, dan seluruhnya harus dilunasi paling lambat 28 Januari 2027. Fasilitasnya berbentuk demand loan, yaitu pinjaman jangka pendek yang berlaku paling lama 3 bulan sejak ditandatangani.

Saham Publik Sejahtera Bintang Abadi Textile Ditawar Rp1 Jelang Delisting
Saham PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT), perusahaan tekstil di Bandung, akan dihapus dari Bursa pada 10 November 2026 sesuai keputusan Bursa tertanggal 10 April 2026, dan mulai 2 November pemegang saham publik ditawari menjual sahamnya di harga Rp1 per saham. Tawaran itu mencakup 2,45 miliar saham, atau 51,52% dari modal ditempatkan dan disetor, sehingga lebih dari separuh perusahaan masih di tangan publik. Menurut perseroan, pembelian ini bertujuan menurunkan jumlah pemegang saham menjadi kurang dari 50 pihak.

Tower Bersama Siapkan Rp106 Miliar untuk Buyback Saham Tiga Bulan
Tower Bersama Infrastructure (TBIG), penyedia infrastruktur telekomunikasi lewat anak usahanya, berencana membeli kembali sahamnya sendiri di bursa dengan dana paling banyak Rp106 miliar, karena menurut perseroan harga sahamnya saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental dan prospeknya. Perseroan juga menyebut buyback ini diharapkan menjaga stabilitas harga saham. Pembelian dijadwalkan pada 2 November 2026 sampai 29 Januari 2027 untuk sebanyak-banyaknya 52,8 juta saham, atau 0,23% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. TBIG memakai aturan khusus untuk kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, sehingga buyback ini bisa berjalan tanpa menunggu persetujuan RUPS.

Dian Swastatika Beli Lahan Pusat Data Rp3,1 Triliun dari Anak Usaha BSD
Dian Swastatika Sentosa (DSSA), lewat anak usahanya di bidang pusat data, PT SMPlus Cakrawala Cipta Gemilang (SMCCG), membeli tanah seluas sekitar 166.261 m² di D-Hub Cluster 2B, Kawasan Ekonomi Khusus BSD City, Tangerang, seharga Rp3,1 triliun. Emiten menyebut tanah itu akan menjadi lokasi baru pengembangan layanan pusat datanya. Penjualnya PT Surya Inter Wisesa (SIW), perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki PT Bumi Serpong Damai Tbk, pengembang kawasan BSD City. Perjanjian pengikatan jual belinya ditandatangani pada 26 Oktober 2026.

NexAI Digital Lunasi Talangan Pengendali Lewat Rights Issue Rp2,54 Triliun
NexAI Digital Infrastruktur (MGLV) akan menerbitkan saham baru lewat rights issue senilai sampai Rp2,54 triliun, dan sekitar Rp1,76 triliun dari dana itu direncanakan kembali ke pengendalinya, PT Nextier Datamate Center (NDC). NDC mengambil alih MGLV pada Februari 2026 dan mengubah perusahaan yang dulu berdagang peralatan rumah tangga ini menjadi pengelola data center. Pada 7 September 2026 MGLV membeli dua anak usaha data center dari NDC, NAC di Cikarang dan NGC di Batang, lalu sehari kemudian menjual 13 anak usaha lamanya. Pembangunan data center itu selama ini dibiayai pinjaman NDC sampai Rp4 triliun berbunga 7% per tahun. NDC sendiri berkomitmen membeli saham baru senilai Rp1,59 triliun.

Habco Trans Maritima Beli Kapal Curah Union Lotus Rp457,1 Miliar
Habco Trans Maritima (HATM), perusahaan angkutan laut dalam negeri untuk barang umum, mengumumkan telah membeli satu kapal pengangkut muatan curah bernama Union Lotus pada 26 Oktober 2026 seharga USD25,6 juta atau Rp457,1 miliar, setara 27,92% ekuitasnya. Menurut HATM, kapal itu akan disewakan jangka panjang lewat skema time charter kepada pihak dari luar negeri yang tidak terafiliasi, dan namanya rencananya diganti menjadi Habco Antlia. Penjualnya, Coastline Shipping Limited, juga disebut tidak terafiliasi dengan perseroan, dan HATM menyatakan pembelian ini tidak memerlukan persetujuan RUPS.

Saraswanti Indoland Pinjam Rp70 Miliar dari Bank Raya untuk Hotel
Saraswanti Indoland Development (SWID) mengumumkan pada 26 Oktober 2026 bahwa perseroan telah meminjam Rp70 miliar dari Bank Raya Indonesia, setara 25,43% dari ekuitas per 31 Desember 2025. Perjanjian kredit ditandatangani pada 22 Oktober 2026, jadi ini transaksi yang sudah dilakukan dan bukan rencana. Dananya untuk membiayai operasional hotel bintang lima The Royal Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, sementara jaminannya adalah tabungan digital Rp70 miliar atas nama Noegroho Hari Hardono yang diblokir dan digadaikan kepada bank.

Buana Finance Tambah Pinjaman Rp500 Miliar dari Bank Danamon
Buana Finance menambah pinjaman berjangka Rp500 miliar dari Bank Danamon, sehingga total pinjaman perseroan disebut menjadi Rp2,15 triliun, atau 152,73% dari ekuitas per 31 Desember 2025. Perjanjian fasilitas kredit itu sudah ditandatangani pada 26 Oktober 2026 dengan tenor maksimal 48 bulan, jadi ini transaksi yang sudah terjadi dan bukan rencana. Dananya dipakai sebagai modal kerja untuk menyalurkan kredit pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan.

Bank Syariah Indonesia Rencanakan Buyback Saham Hingga Rp500 Miliar
Bank Syariah Indonesia mengumumkan pada 26 Oktober 2026 rencana membeli kembali sahamnya sendiri di bursa senilai paling banyak Rp500 miliar, setara sekitar 0,98% dari ekuitas per 30 Juni 2026. Dananya berasal dari kas internal, bukan pinjaman atau hasil penawaran umum, dan nilai itu sudah termasuk biaya transaksi. Rencana ini menyusul rencana rights issue yang diberitakan pada memo 30 September 2026, dan sampai sekarang belum ada saham yang dibeli.

Bumi Resources Beli Mount Margaret Mining Lewat Anak Usaha di Australia
Bumi Resources melaporkan bahwa anak usahanya di Australia, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA), pada 23 Oktober 2026 membeli seluruh saham Mount Margaret Mining Pty Ltd seharga USD22,01 juta. Emiten menyebut langkah ini sebagai bagian dari rencana transformasi dan diversifikasi usaha di luar batubara. Transaksinya sudah terjadi, bukan rencana, dan suratnya baru disampaikan ke OJK tiga hari kemudian, pada 26 Oktober 2026.

Indofood CBP Rencanakan Buyback Saham hingga Rp750 Miliar
Indofood CBP berencana membeli kembali sahamnya sendiri di bursa dengan dana sebanyak-banyaknya Rp750 miliar dari kas internal, setara sekitar 1,0% dari ekuitas per 30 Juni 2026. Pembelian dijadwalkan berjalan dari 26 Oktober sampai 31 Desember 2026. Perseroan menyebut langkah ini ditempuh sesuai aturan OJK untuk kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Saham ICBP ditutup di Rp6.000 pada 22 Oktober 2026, hari bursa terakhir sebelum pengumuman, dengan kapitalisasi pasar Rp69,97 triliun.

Indofood Rencanakan Buyback Saham Hingga Rp750 Miliar
Indofood Sukses Makmur berencana membeli kembali sahamnya sendiri lewat bursa dengan dana paling banyak Rp750 miliar dari kas internal, setara sekitar 0,60% dari total ekuitas per 30 Juni 2026. Pembelian dijadwalkan 26 Oktober sampai 31 Desember 2026 dan berhenti lebih awal bila dana habis terpakai. Jumlah saham yang dibeli tidak boleh lebih dari 20% modal disetor, sementara harganya tidak dibatasi dan hanya disebut sebagai harga yang dianggap baik dan wajar oleh perseroan. Pada penutupan 22 Oktober 2026, saham INDF berada di Rp6.625 dengan kapitalisasi pasar Rp58,17 triliun.

Konten ini bersifat edukasi dan riset, bukan rekomendasi atau nasihat investasi. Lakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.