Memuat…
Bach Multi Global Tandatangani Perjanjian Kredit Rp450 Miliar
PT Bach Multi Global Tbk menandatangani perjanjian kredit senilai Rp450 miliar pada 30 September 2026 dan mengumumkannya pada 1 Oktober 2026. Ini pinjaman yang diterima langsung dari bank, sehingga perseroan menanggung kewajiban kepada bank sebesar nilai tersebut.

Era Media Sejahtera Rencanakan Right Issue dan Beli 29,88% Saham INET
Era Media Sejahtera (DOOH), pengelola iklan luar ruang digital, mengumumkan pada 1 Oktober 2026 rencana right issue sebanyak-banyaknya 154.777.820.720 saham baru, setara 95,24% dari modal setelah penerbitan, sehingga pemegang saham yang tidak menebus haknya akan berkurang porsinya hingga 95,24%. Rencana itu berjalan satu paket dengan pinjaman hingga Rp2 triliun dari pemegang saham pengendali dan pembelian 29,88% saham Sinergi Inti Andalan Prima (INET) senilai Rp2,0055 triliun. Semuanya masih usulan yang akan dibahas dalam rapat pemegang saham luar biasa pada 9 November 2026, dan right issue masih memerlukan pernyataan efektif dari OJK.

Astra Agro Lestari Siapkan Rp400 Miliar untuk Beli Kembali Sahamnya
Astra Agro Lestari mengumumkan pada 1 Oktober 2026 bahwa perseroan akan membeli kembali sahamnya sendiri di bursa dengan dana sebanyak-banyaknya Rp400 miliar, sekitar 1,6% dari ekuitasnya yang Rp24,6 triliun per 30 Juni 2026. Dana itu berasal dari kas internal, bukan pinjaman, dan pembelian direncanakan berjalan dari 2 Oktober sampai 28 Desember 2026. Perseroan menyebut tujuannya meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar modal, dengan memakai aturan khusus OJK untuk kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.

Asuransi Harta Aman Siapkan Rights Issue Kelima Hingga Rp175 Miliar
Pemegang saham Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP) akan ditawari saham baru seharga Rp50, yang berada 44,4% di bawah harga penutupan Rp90 pada 30 September 2026, sementara pemegang saham yang tidak ikut menebus porsinya berkurang 41,67% dari semula. Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 3.500.000.000 saham baru lewat rights issue kelima, dengan rasio 7 banding 5: setiap 7 saham lama yang tercatat pada 12 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB mendapat 5 hak, dan satu hak membeli satu saham baru. Tanggal pencatatan itu bergeser dari 8 Oktober 2026 pada pengumuman 25 September, setelah OJK menyatakan pendaftarannya efektif pada 30 September 2026.

Berlina Tambah Modal Lewat HMETD, Pengendali Membayar dengan Konversi Utang
Berlina, produsen kemasan dan barang plastik, berencana menambah modal lewat HMETD dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 543.950.000 saham baru, setara 55,56% dari saham yang beredar sebelumnya. Pemegang saham utamanya, PT Dwi Satrya Utama (DSU) yang memegang 54,57%, akan membayar bagiannya dengan mengubah utang perseroan kepadanya menjadi saham, bukan dengan uang tunai. Harga pelaksanaannya Rp685 per saham dan nilai emisi maksimumnya Rp372,6 miliar. Harga itu 11,4% di atas penutupan Rp615 pada 30 September 2026, hari bursa terakhir sebelum pengumuman. Rencana ini sudah disetujui RUPSLB 5 Agustus 2026 dengan 73,03% suara dari saham yang hadir, dan pernyataan pendaftarannya efektif di OJK sejak 30 September 2026.

Adaro Andalan Lepas Kestrel ke Yancoal Senilai US$814,12 Juta
Anak usaha AADI, Adaro Capital Limited (ACL), pada 1 Oktober 2026 menyelesaikan penjualan seluruh saham dan waran miliknya di Kestrel Coal Group kepada Yancoal Australia. Nilainya US$814,12 juta sebelum pajak dan US$734,83 juta setelah pajak, setara 20,69% ekuitas AADI. Perjanjian jual-belinya sudah ditandatangani pada 14 April 2026, jadi yang diumumkan adalah penyelesaian transaksi, bukan rencana baru.

United Tractors Rencanakan Buyback Saham Hingga Rp2 Triliun
United Tractors berencana membeli kembali sahamnya sendiri dengan dana sebanyak-banyaknya Rp2 triliun, memakai kas internal dan bukan pinjaman. Pembelian dijadwalkan berlangsung dari 1 Oktober sampai 31 Desember 2026 melalui Bursa dan satu perusahaan efek yang ditunjuk, tetapi emiten tidak menyebut berapa saham yang akan dibeli maupun di harga berapa. Perseroan menyebut aksi ini berdasar aturan OJK untuk kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan (POJK 13/2023) dan surat OJK 9 September 2026, dengan tujuan mendukung stabilitas pasar modal dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Waskita Beton Tambah Tiga Kreditur Dagang yang Utangnya Dikonversi Jadi Saham
Waskita Beton Precast menyampaikan pada 30 September 2026 bahwa tiga vendor yang masih menagih perseroan akan ikut dalam rencana pelunasan utang dengan saham, dengan total tagihan Rp6,1 miliar. Pembayarannya tidak memakai uang tunai, melainkan saham baru yang diberikan kepada kreditur sebagai pengganti tagihannya. Saham itu tidak ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham lama, padahal pada penambahan modal biasa mereka mendapat hak memesan efek terlebih dahulu atau HMETD. Penerbitan saham kepada pihak tertentu tanpa hak itu disebut private placement, dan dalam keterbukaan ini disingkat PMTHMETD.

Garuda Indonesia Siapkan Rights Issue Ketiga, Danantara Bayar dengan Saham GMFI
Garuda Indonesia berencana menerbitkan paling banyak 124.352.806.609 saham baru lewat rights issue ketiga, dan pemegang saham terbesarnya, PT Danantara Asset Management (DAM) yang memegang 91,11%, akan membayar bagiannya dengan saham GMFI, perusahaan perawatan pesawat, bukan dengan uang. Pemegang saham lain membayar tunai, sehingga porsi mereka yang tidak menebus haknya berkurang sekitar 23,4% dari semula bila seluruh saham baru terbit. Harga pelaksanaan belum ditetapkan, jadi dana tunai yang akan masuk belum bisa diketahui. Pada penutupan 29 September 2026, hari bursa terakhir sebelum pengumuman, saham GIAA berada di Rp57 dengan kapitalisasi pasar Rp23,2 triliun.

Surya Fajar Capital Jual Anak Usaha DPI ke Pengendalinya
Surya Fajar Capital menjual seluruh 296.867.000 saham PT Digitalisasi Perangkat Indonesia (DPI), setara 51,95% DPI, kepada PT Surya Fajar Corpora (SFC) seharga Rp15,73 miliar. SFC adalah pemegang saham pengendali SFAN dengan 71,24%, sehingga anak usaha yang merugi berpindah ke induknya sendiri. Akta jual beli ditandatangani 29 September 2026, jadi transaksi ini sudah terjadi, bukan rencana.

Bank Syariah Indonesia Rencanakan Rights Issue hingga 6,8 Miliar Saham Baru
Bank Syariah Indonesia berencana menerbitkan paling banyak 6,8 miliar saham Seri B baru, dan pemegang saham lama yang tidak menebus haknya akan berkurang porsinya sampai 12,85%. Saham itu ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham yang ada lewat rights issue kedua (PMHMETD II), bernominal Rp500 per saham dan dibayar tunai. Pada penutupan 29 September 2026, sehari sebelum pengumuman, saham BRIS berada di Rp1.515 dengan kapitalisasi pasar Rp69,19 triliun. Harga pelaksanaan belum ada, sehingga belum bisa dibandingkan dengan harga di bursa. Rencana ini baru berjalan setelah disetujui RUPSLB pada 6 November 2026 dan pendaftarannya dinyatakan efektif oleh OJK.

Sarana Menara Nusantara Rencanakan Buyback hingga Rp500 Miliar
Sarana Menara Nusantara berencana membeli kembali sahamnya sendiri dengan dana paling banyak Rp500 miliar dari kas internal, jumlah yang setara sekitar 2% saham yang ditempatkan dan disetor, atau 1.183.151.916 saham. Dana itu sekitar 1,72% dari ekuitas perseroan per 30 Juni 2026. Rencana ini diumumkan pada 30 September 2026, dan pembelian lewat PT BCA Sekuritas bisa berjalan sampai 30 Desember 2026 tanpa menunggu persetujuan RUPS. Kelonggaran itu ada karena OJK, lewat Surat No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026, menetapkan pasar dalam kondisi berfluktuasi secara signifikan, dan selama status itu berlaku emiten boleh membeli kembali sahamnya tanpa rapat pemegang saham.

Indocement Gabungkan Dua Anak Usaha Pelayaran, Bahana Indonor Jadi Penerima
Indocement Tunggal Prakarsa, produsen semen, mengumumkan pada 29 September 2026 penggabungan usaha dua perusahaan pelayaran yang dikendalikannya. PT Lintas Bahana Abadi bergabung ke PT Bahana Indonor, dan Bahana Indonor menjadi pihak yang menerima penggabungan. Perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain seperti ini disebut entitas anak, sehingga langkah ini adalah penataan di dalam grup Indocement dan tidak melibatkan pihak luar.

VKTR Teknologi Mobilitas Gelar Rights Issue Hingga 15 Miliar Saham
VKTR Teknologi Mobilitas akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 15.000.000.000 saham baru lewat rights issue dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham, sedangkan saham VKTR ditutup di Rp770 pada 28 September 2026, sehingga harga rights issue berada 74% di bawah harga bursa itu. Dana yang bisa terhimpun paling banyak Rp3 triliun sebelum biaya penerbitan, dibanding kapitalisasi pasar perseroan Rp33,69 triliun. Rencana ini sudah disetujui RUPSLB pada 19 Mei 2026 dan dinyatakan efektif oleh OJK pada 28 September 2026. Surat jadwal ini mengoreksi surat sebelumnya yang terbit pada hari yang sama, dan emiten tidak menyebut bagian mana yang dikoreksi.

Austindo Nusantara Jaya Pinjamkan Rp2 Triliun ke Adhitya Serayakorita
Austindo Nusantara Jaya (ANJT) menandatangani perjanjian pada 25 September 2026 untuk meminjamkan sampai Rp2 triliun kepada PT Adhitya Serayakorita (ASK), perusahaan pengolahan minyak sawit yang berada dalam kelompok usaha yang sama, dan pinjaman itu tidak memakai jaminan. Plafon tersebut setara 46,95% dari ekuitas ANJT per 30 Juni 2026 yang sebesar Rp4,26 triliun, sehingga uang yang akan keluar dari ANJT mendekati separuh modalnya sendiri. Sebagai pembanding skala, kapitalisasi pasar ANJT pada penutupan 28 September 2026 adalah Rp5,2 triliun, dengan harga saham Rp1.550.

Indah Prakasa Rencanakan Saham Baru ke Pengendali untuk Atasi Ekuitas Negatif
Pengendali PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS), yaitu PT Graha Inti Guna Persada (GIGP), berencana menyetor hingga Rp125 miliar ke perseroan yang ekuitasnya negatif Rp42,8 miliar per 30 Juni 2026, dan sebagai imbalannya porsinya naik dari 65,86% menjadi 88,32%. INPS, yang bergerak di bidang pergudangan, perdagangan bahan bakar, dan kegiatan perusahaan induk, mengumumkan pada 25 September 2026 rencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 1.250.000.000 saham baru yang seluruhnya diambil GIGP, tanpa memberi pemegang saham lain jatah beli lebih dulu. Rencana ini baru bisa berjalan bila RUPSLB pada 3 November 2026 menyetujuinya.

SOFA Tambah Dua KBLI, Formalkan Transformasi Menjadi Holding Energi Sampah
PT Solusi Environment Asia Tbk berencana menambahkan dua kode kegiatan usaha ke dalam Anggaran Dasarnya: Aktivitas Perusahaan Induk (KBLI 64210) dan Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220). Dua kode itu diperlukan agar perseroan secara sah dapat bertindak sebagai induk yang mengelola portofolio investasi sekaligus menyalurkan dana ke entitas dalam grupnya. Nilai investasi yang direncanakan melampaui ambang yang ditetapkan aturan pasar modal, sehingga rencana ini wajib diungkapkan ke publik dan mendapatkan persetujuan pemegang saham; aksi yang memenuhi syarat itu disebut transaksi material. Persetujuan itu akan dimintakan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa yang dijadwalkan 30 September 2026. Dokumen ini merupakan koreksi atas versi yang terbit sehari sebelumnya, tanpa merinci apa yang diubah.

Solusi Environment Tambah Bidang Usaha Induk dan Penyalur Dana Proyek Sampah
Solusi Environment Asia (SOFA), yang dulu bernama Boston Furniture Industries dan memproduksi furnitur bermerek Blackwood, berencana menjadi induk sekaligus penyalur dana bagi proyek pengolahan sampah menjadi listrik, dengan kebutuhan dana Rp238,22 miliar atau sekitar 7,1 kali ekuitasnya yang Rp33,35 miliar per 30 Juni 2026. Untuk itu perseroan akan menambah dua kode kegiatan usaha (KBLI) ke anggaran dasarnya, yakni Aktivitas Perusahaan Induk (64210) dan Aktivitas Pembiayaan Conduit (64220). Bidang yang kedua berarti perseroan menghimpun dana lalu menyalurkannya ke perusahaan lain di dalam grup.

Megalestari Epack Rencanakan Rights Issue dan Buyback Sekaligus
Megalestari Epack Sentosaraya berencana menerbitkan hingga 2.000.000.000 saham baru lewat rights issue (PMHMETD I), padahal data bursa mencatat saham tercatatnya saat ini 3.303.400.000 lembar. Saham baru yang direncanakan itu karenanya lebih dari separuh jumlah saham yang sudah ada. Pada saat yang sama perseroan merencanakan buyback dengan anggaran maksimal Rp20 miliar. Keduanya masih rencana dan baru bisa berjalan setelah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan 3 November 2026.

Pukul Rata Kanan Tawarkan Tender Sukarela Saham TRUK, Incar Kendali 30%
PT Pukul Rata Kanan (PRK) mengumumkan pada 25 September 2026 rencana tender sukarela atas saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), perusahaan jasa pengurusan transportasi, pergudangan, dan angkutan darat. PRK sudah memegang 65.250.000 saham atau 15%, dan ingin membeli sebanyak-banyaknya 65.250.000 saham lagi dari pemegang saham publik sehingga kepemilikannya menjadi 130.500.000 saham atau 30% dan PRK menjadi pengendali baru. Harga tawarannya Rp740 per saham secara tunai, berada 64,3% di bawah penutupan TRUK Rp2.070 pada 24 September 2026, hari bursa terakhir sebelum pengumuman.

Energi Mega Persada Gelar Rights Issue Rp4,12 Triliun
Energi Mega Persada, perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, akan menerbitkan 13.282.271.875 saham baru Seri B pada harga Rp310 per saham untuk mengumpulkan Rp4,12 triliun, sehingga pemegang saham yang tidak menebus haknya berkurang porsinya hingga 33,33%. Harga itu 76,3% di bawah penutupan Rp1.310 pada 24 September 2026, hari bursa terakhir sebelum pengumuman, sementara kapitalisasi pasar perseroan Rp34,8 triliun. Ini rights issue keempat perseroan, dan OJK menyatakan pendaftarannya efektif pada 24 September 2026. Setiap dua saham lama memberi satu HMETD, dan satu HMETD bisa ditukar dengan satu saham baru.

Harum Energy Akan Beli Kembali Saham Hingga Rp120 Miliar
Harum Energy berencana membeli kembali sebanyak-banyaknya 111.000.000 sahamnya sendiri, setara 0,82% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan anggaran paling banyak Rp120 miliar yang diambil dari kas internal perseroan. Rencana ini diumumkan pada 25 September 2026. Pembelian kembali saham pada umumnya memerlukan persetujuan RUPS, tetapi kali ini perseroan memakai ketentuan khusus dalam POJK 13/2023 yang membolehkannya tanpa RUPS selama OJK telah menetapkan pasar berada dalam kondisi berfluktuasi signifikan. Penetapan itu terbit lewat surat OJK tertanggal 9 September 2026. Pembelian dijadwalkan berjalan dari 28 September sampai 24 Desember 2026 melalui BEI, dengan satu perantara pedagang efek yang akan ditunjuk kemudian.

Arkora Hydro Teken Pinjaman Proyek Surya dari SMI Tanpa RUPS
Anak usaha tidak langsung Arkora Hydro, PT Endorshine Energy Solutions (EES), menandatangani akta perjanjian pembiayaan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) pada 21 September 2026. Fasilitas maksimumnya US$9,8 juta, setara Rp174,57 miliar atau 34% dari ekuitas Arkora Hydro per 31 Desember 2025, dan pemegang saham tidak diminta menyetujuinya. Transaksi ini sudah selesai ditandatangani, bukan rencana yang menunggu rapat, dan perseroan mengumumkannya pada 23 September 2026.

Polaris Investama Buka Buyback Saham Publik Menjelang Delisting
Pemegang saham publik PT Polaris Investama Tbk (PLAS), perusahaan di bidang investasi, mendapat jalan keluar sebelum sahamnya dihapus dari bursa: perseroan akan membeli kembali saham mereka di harga Rp51 per saham, dengan periode pengajuan 24 September sampai 6 November 2026. Bursa Efek Indonesia memutuskan penghapusan pencatatan saham PLAS lewat tiga surat tertanggal 10 April 2026, dan penghapusan itu berlaku efektif pada 10 November 2026.

Apexindo Pratama Duta Konversi Utang HSBC Jadi Saham Baru
Dua bank pemberi pinjaman Apexindo Pratama Duta, emiten jasa pengeboran minyak dan gas, akan menerima 218.090.317 saham baru seri B sebagai pelunasan piutang mereka senilai US$4.108.948, setara Rp70,88 miliar pada kurs kesepakatan Rp17.250 per dolar AS. Penerimanya adalah HSBC Bank PLC dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, kreditur sindikasi luar negeri, dan saham diterbitkan tanpa HMETD. Perseroan tidak menerima uang tunai karena penyetoran saham dilakukan dengan mengompensasi hak tagih kedua bank, skema yang disebut konversi utang menjadi saham. Rencana yang diumumkan pada 23 September 2026 ini masih menunggu persetujuan RUPS Luar Biasa pada 7 Oktober 2026.

Trimegah Karya Pratama Rencanakan Private Placement 200 Juta Saham untuk Pengendali
Trimegah Karya Pratama, pengelola Ultra Voucher, berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 200 juta saham baru yang seluruhnya ditawarkan kepada pemegang saham pengendalinya, PT Trimegah Sumber Mas (TSM). Bila TSM menyerap semuanya, porsinya naik dari 31,18% menjadi 37,43%, sementara perseroan menerima dana Rp27 miliar sebelum biaya. Saham baru itu setara 10% dari modal disetor sekarang, dan karena skemanya penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD), pemegang saham lain tidak mendapat kesempatan menebusnya.

Siloam Rencanakan Akuisisi Rumah Sakit yang Disewanya dari First REIT
Siloam International Hospitals berencana membeli 14 perusahaan yang masing-masing memiliki satu rumah sakit atau klinik, seluruhnya properti yang selama ini disewa Siloam dari First Real Estate Investment Trust (First REIT), trust properti kesehatan yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Nilai totalnya Rp6,91 triliun, setara 67,57% dari ekuitas Siloam per 31 Maret 2026, sehingga perseroan akan beralih dari penyewa menjadi pemilik gedungnya, dan pendanaannya memakai utang bank jangka panjang baru Rp8,88 triliun. Karena melewati ambang 20% ekuitas, transaksi ini tergolong transaksi material dan baru bisa berjalan setelah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan 22 September 2026. Emiten menyatakan First REIT bukan pihak terafiliasi.

Konten ini bersifat edukasi dan riset, bukan rekomendasi atau nasihat investasi. Lakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.