- Pengendali
- Medco Daya Abadi Lestari (Panigoro) 52,44%
- Dirut
- Hilmi Panigoro
Biaya produksi kas per barel setara minyak pada 2025, jauh di bawah panduan USD 10/boe. Biaya serendah ini yang membuat MEDC tetap mencetak laba operasi ketika harga minyak jatuh, dan menjadi dasar seluruh ketahanannya terhadap siklus.
Ukuran deskriptif dari data, bukan sikap beli/jual. Tiap emiten punya bentuk berbeda.
MEDC adalah perusahaan energi terintegrasi swasta terbesar di Indonesia, dengan tiga kaki bisnis yang bobotnya jauh berbeda. Eksplorasi dan produksi migas menyumbang pendapatan USD 2.189,5 juta dari total konsolidasi USD 2.395,0 juta pada 2025, atau sekitar 91%. Sisanya datang dari ketenagalistrikan lewat Medco Power Indonesia, perdagangan, dan penyertaan 20,9% di Amman Mineral yang masuk laporan sebagai entitas asosiasi. Produksi migas mencapai 156 mboepd pada 2025 dan menembus rekor 169 mboepd pada Q1-2026, dengan cash cost USD 8,6/boe dan reserve life 11,4 tahun atas cadangan 2P 563,8 mmboe.
Karakter terpentingnya sebagai emiten adalah jarak antara dua lapisan laporan laba rugi. EBITDA bergerak sempit selama tiga tahun, yaitu USD 1,26 miliar (2023), USD 1,27 miliar (2024), dan USD 1,26 miliar (2025), ditopang porsi gas yang dijual lewat kontrak harga tetap jangka panjang ke pelanggan domestik. Laba bersih atribusi induk justru berayun keras, dari USD 530,9 juta (2022) ke USD 100,9 juta (2025), turun 73% hanya dalam satu tahun. Penyebabnya berada di bawah laba operasi, yaitu kontribusi Amman Mineral yang jatuh dari USD 133 juta ke USD 52 juta, harga minyak yang turun, dan kerugian nilai aset non-kas. Pola ini bukan kejadian sekali. Dalam sepuluh tahun terakhir laba bersih MEDC tiga kali negatif, yaitu pada 2018, 2019, dan 2020, dengan jatuh terdalam 212% dari puncak ke palung, dan itulah yang menekan sumbu Konsistensi pada radar jauh di bawah rata-rata sektornya.
Perusahaan dikendalikan keluarga Panigoro lewat PT Medco Daya Abadi Lestari yang memegang 52,44% saham, berdiri sejak 1980 dan tercatat di IDX sejak 1994. Skalanya dibangun lewat akuisisi berturut-turut, dari ConocoPhillips, Ophir Energy, dan OQ Oman sampai Repsol pada 2025, dan strategi itu meninggalkan utang berbunga sekitar USD 3,5 miliar dengan rasio total liabilitas terhadap ekuitas 2,54x, tertinggi di antara peer migas IDX. Per Juni 2026 saham diperdagangkan di Rp1.160, di bawah nilai buku per sahamnya, dengan PBV 0,73x.
Bisnis dan Model Operasi
E&P migas menyumbang sekitar 91% pendapatan MEDC, sementara listrik dan Amman Mineral berjalan di lapisan yang berbeda.
- Segmen migas menyumbang pendapatan USD 2.189,5 juta pada 2025 dari total konsolidasi USD 2.395,0 juta, sekitar 91%.
- Ketenagalistrikan berjalan lewat Medco Power Indonesia yang dimiliki penuh, sementara penyertaan 20,9% di Amman Mineral tidak masuk pendapatan konsolidasi dan muncul sebagai bagian laba entitas asosiasi di bawah laba operasi.
- MEDC memproduksi kira-kira seperlima output gas Indonesia.
Riset dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Halaman ini memetakan bisnis MEDC secara netral. Pandangan sikap disusun terpisah di Market Memo dan Membership.